Tulisan ini adalah refleksi penulis di halaman Facebook-nya. Dimuat di blawg ini karena banyaknya tanggapan menarik dari para pembaca. Semoga menambah wawasan.
Dia bilang, “Israel tidak biadab.”
Dia bilang, “Ini perang, dan wajar Israel (dan Amerika Serikat) menyerang habis-habisan.”
Saya bukan ahli sejarah, bukan pula ahli agama. Tidak banyak fakta yang bisa saya utarakan untuk mendukung argumen saya menentang pendapatnya.
Kita sedang melihat serangan membabi-buta. Kita tidak melihat balasan serangan yang proporsional.
Kita membicarakan korban tewas dan luka dari umat manusia. Kita tidak bicara tentang korban tewas dan luka dari umat Islam saja, Yahudi saja, atau Kristen saja.
Kita prihatin, tanah Palestina terus diganggu oleh kelompok yang tidak berhak atasnya. Kita sedih, anak-anak Palestina itu kehilangan masa depannya setelah mortir menerjang nyawanya.
Saya sudah diam.
Dia bilang lagi, “Hamas juga akan berbuat hal sama (seperti tindakan Israel) jika punya kekuatan hebat.”
Saya bukan ahli sejarah, bukan pula ahli agama. Tidak banyak fakta yang bisa saya utarakan untuk mendukung argumen saya menentang pendapatnya.
Tapi, lihat di layar kaca. Israel digdaya, binasakan Palestina, sengsarakan umat manusia.
Dan bukan hanya saat ini, tapi sejak lebih enam puluh tahun lalu.
Dia terus berkata.
Saya tetap diam.
Saya bukan ahli sejarah, bukan pula ahli agama. Sementara dia pengacara.
Maka, saya memilih diam.




20 tanggapan so far ↓
Gita Putri Damayana // Januari 4, 2009 pada 2:34 pm |
Selama diam tidak berarti nyerah.
Herdy Parlaungan Lubis // Januari 4, 2009 pada 2:36 pm |
Mungkin lebih tepatnya diam dalam arti berdoa bung Gama. Mungkin cuma itu yang bisa kita lakukan sbg sesama muslim, mengingat situasi di Palestine sangat sulit kita jangkau sbg rakyat sipil di Indonesia.
Oleh karena itu gue pun masih nggak habis pikir thd laskar FPI yang ingin berangkat utk “berjihad” di Palestine. Yang ada dalam benak gue adalah pertama, dananya drmn, dan jika pun mereka punya dana, maka berangkat dgn apa, dan jikapun ada pesawat yg memberangkatkan, mereka mendarat dimana, disana bertemu siapa, makan apa, tinggal dimana, dan bagaimana melewati pintu ke jalur gaza, dan jika lewat dan mereka tertembak mati, maka sudahkan mereka melakukan sesuatu? Lalu apakah ini yang dinamakan jihad..?
Cuma sekadar komentar.
Prita Riski Nazarudin // Januari 4, 2009 pada 2:37 pm |
Bukannya tidak perduli dengan tetangga di seberang sana..
Bukannya egois dengan tidak memikirkan nasib saudara-saudara kita yang menderita..
Tapi masih banyak hal di Indonesia yang masih lebih penting untuk diperhatikan dan diprioritaskan..
Saya pribadi sudah muak dengan pemberitaan-pemberitaan yang tidak berimbang..
Kita harus mulai berjuang dengan tulisan..
berdoa, belajar, membaca dan menulis..
P
(taeah ga nyambung..)
M. Rizky Noviyanto // Januari 4, 2009 pada 2:37 pm |
umat muslim bagai satu tubuh, klo ada salah satu bag.yg sakit maka yg sakit orang itu. bukan cuma salah satu bag-nya.
Ery Nugroho // Januari 4, 2009 pada 2:38 pm |
Tidak Biadab, Biadab, Tidak Beradab, atau Beradab?
Herni Sri Nurbayanti // Januari 4, 2009 pada 2:39 pm |
Menurut gw, persoalan israel menyerang palestina dng FPI pergi kesana, itu dua hal yang berbeda.Yg pertama persoalan kemanusiaan dan hukum internasional, yg gak perlu jadi muslim dulu utk bicara soal itu. Tp memang pertanyaan yg menggelitik kalau keadaan dibalik, orang Palestina (baca: Islam) yang menjadi Israel, akankah kita masih seribut sekarang? Kalau masih berpegang bhw itu persoalan kemanusiaan dan hukum internasional, ya mungkin tidak akan berbeda sikapnya. Yg kedua, menyangkut soal gimana memaknai “jihad” itu sendiri, yg merupakan persoalan di kalangan kaum Islamnya sendiri. Pertanyaan menggelitik klasik buat para jihaders itu, kenapa jihadnya jauh-jauh? Tidakkah bumi pertiwi yg konon katanya populasi muslim masih mayoritas ini penuh dng masalah ketidakadilan dan kemanusiaan? Cuma kalau mau berpikir praktis, ada bagusnya juga FPI pergi kesana, daripada bikin rusuh disini. Win-win solution. Mereka dapet jihad dan status syahidnya, dan kita mendapat ketenangan.
gama // Januari 4, 2009 pada 2:40 pm |
Mbak Gita,
iya, bukan nyerah. Tapi, sepertinya harus jd pengacara dulu utk menghadapi pengacara. Makanya saya ikut ujian advokat, doain lulus ya.
Herdy,
yup, berdoa jd upaya kita yg minimal, dan memang itu yg bisa kita lakukan. Soal FPI, gw ga pernah sependapat sama golongan yg mengedapankan kekerasan di negara hukum.
Prita,
berdoa, belajar dan membaca, utk kemudian menulis jg salah satu bentuk kepedulian. Kalo lo melakukan itu, berarti lo masih peduli, tanpa meminggirkan kepentingan negara sendiri sbg prioritas. Udh kelar blom tulisan lo?
Rizky Novi,
gw sepakat. Kalo ga salah ada haditsnya jg ya? Gmn bunyinya?
Bang Ery,
kalo menurut saya, Israel dgn zionismenya itu biadab dan tdk beradab.
Mbak Herni,
yup, dua hal berbeda. Setuju, ini persoalan kemanusiaan, walaupun menyangkut prinsip2 dlm keyakinan agama. Pertanyaan seperti itu memang menggelitik krn yg terjadi skrg adalah Israel memborbadir Palestina, bukan sebaliknya. Sebaiknya kita tdk berandai2 tapi melihat fakta. Pernah denger jg, mungkin hadits, umat Islam itu layaknya lebah: hanya menyerang (baca: membalas) bila diserang terlebih dahulu. Soal FPI, sekali lagi, saya ga pernah sepakat sama mereka, hehe. Bentuk bantuan yg dilakukan MER-C, dgn mngirim tenaga medis dan obat2an, jauh lebih bermakna. Begitu jg dgn KISPA yg mengirim bantuan dana.
Makasi yaa responsnya…
Asrul Ibrahim // Januari 4, 2009 pada 2:41 pm |
Coba2 merespon ya bang gama!!
anyway….Sahabat2 yang comment di atas udah pernah baca komik Palestinanya Joe Sacco???
Cukup menggambarkan penderitaan umat muslim di Palestina.
Faktanya sekarang Israel (untuk kesekian kalinya) menyerang Palestina, sementara kita meributkan bagaimana kalo Hamas yang kuat dan menyerang Israel….ah gak penting tuh. Kontribusi kita untuk muslim Palestina apa?nah tu dia pertanyaan yang saya rasa penting…
FPI ga masalah ke Palestina, karena saya yakin mereka punya alasan kuat untuk membela saudara kita di Palestina. MER-C juga OKe!! KISPA juga Oke!! toh saling sinergis kan……tapi memang bagi muslim Palestina yang mereka butuhkan tu logistik (termasuk senjata)….ni yang bilang Ismail Haniyah kalo ga salah Ktua HAMAS.
Back to komiknya Joe Sacco…..Bayangkan kita dalam posisi rakyat Palestina, terjajah di negeri sendiri…sementara saudara2 kita di negara lain cuma ribut2 ga penting dan cuma nonton banyaknya korban yang berjatuhan….
Matur Suwun
Roland McDohl // Januari 4, 2009 pada 2:42 pm |
umm.. israel berhak atas tanahnya koq. palestina juga berhak. gua aja berhak, lo juga. jadi kalo rebutan yaa wajar lah. bunuh2an juga wajar. ini kan sifat dasar manusia. ngapain diurusin. tetangga2nya aja ga ada yang ngurusin.
Ali Salmande Harahap // Januari 4, 2009 pada 2:42 pm |
semua emang berhak sama tanah milik nya. Tapi, masalahnya emang disana ‘tanah’nya Israel? Mana ’sertifikatnya’? Wong dia ujug-ujug datang, terus mendirikan negara.
Gw setuju sama Ahmadinejad, kalo emang bangsa Eropa (baca: Jerman) merasa berdosa telah membantai bangsa Yahudi, ya sediakan aja sejengkal tanah di Jerman utk bangsa Yahudi..
Salam kenal bung Roland
Asrul Ibrahim // Januari 4, 2009 pada 2:43 pm |
Bang Ali….Sepakat!!!
Bang Roland…Salam kenal juga!!!
Nisa Ayu Spica // Januari 4, 2009 pada 2:44 pm |
What Israel is doing to Palestine can be categorized as an act of genocide!
Don’t you guys aware enough of the fact we see on TV? There are already more than 400 people died in Palestine in just within a week!
It’s no longer related to an issue of religion (you might say it as the conflict of Islam and Jewish). NO! There are also christians in Palestine. So definitely, it is more as an issue of humanity.
Hence, where do our hearts belong to when we see the Israel’s attacks to Gaza right now? To the name of humanity or to the proud of being side by side with the Israeli?
gama // Januari 4, 2009 pada 2:44 pm |
Asrul,
salam kenal, makasih udh merespons. Wah, blum baca tuh komiknya. Mungkin menarik kalo ada link websitenya.
Roland,
setau gw sifat dasar manusia itu justru serbabaik. Kalo naluri dasar hewan buas, selalu menyerang. Kalo ada perangai manusia yg buruk, mungkin krn pengaruh setan. Ingat, setan dpt berwujud jin dan manusia. Hehe. Utk nanggepin isu serangan Israel ini, apalagi terkait hak atas wilayah negara, mungkin harus belajar hukum internasional dulu kali ya..
Ali,
yup, ujug2 dtg, itu yg dilakukan kaum zionis. Kemudian melakukan aneksasi atas wilayah Palestina.
Nisa,
setuju, poin paling penting: ini persoalan kemanusiaan!
Aryatama Nurhasyim // Januari 4, 2009 pada 2:45 pm |
Tak usah heran ada orang Indonesia yang mendukung Israel. Macam-macam saja alasan mereka, karena Hamas menyerang negara Israel dulu lah, Hamas itu teroris lah, negara Arab saja model Mesir dan Arab Saudi memusuhi Hamas lah.Ada beberapa kemungkinan mereka jadi begitu : 1. Bias informasi karena salah gaul dan salah mendapatkan informasi (kebanyakan b’gaul sama antek-antek Barat, baca media Barat, dll); 2. Misinterpretasi karena kurang informasi (membaca kurang mendalam karena prasangka buruk pada sumber yang valid); 3. Sok inklusif, sehingga tidak mau mendukung Palestina yang dianggap representasi Islam; 4. Memang bajingan pendukung zionis dan imperialis AS (golongan yang satu ini di Indonesia biasanya diam-diam saja kecuali mereka yang sangat bodoh).
Prita Riski Nazarudin // Januari 4, 2009 pada 2:46 pm |
ga usah terlalu banyak mikirin bangsa lain dulu..
gue sepakat dengan fakta bahwa 86% penduduk indonesia adalah muslim.. kalian2 yang sangat peduli sama palestine, PERNAH BERPIKIR GA SOLUSI YANG BAGUS UNTUK BANGSA INDONESIA?
kalo pernah, sukur deh.. kalo ga.. shame on you..
Prita Riski Nazarudin // Januari 4, 2009 pada 2:46 pm |
Satu lagi, kenapa kita harus berandai2? “coba kalo kita yang jadi palestina” bla bla bla… mending sekarang buka mata, dan liat faktanya apa.. kita bukan orang palestina.. tapi kita emang orang muslim…
tapi apa ga lebih baik bantu SAUDARA2 di RUMAH SENDIRI? sebelum bantuin TETANGGA?
bahaya di INdonesia lebih bahaya.. karena sifatnya LATEN.. heran gue..
Ali Salmande Harahap // Januari 4, 2009 pada 2:47 pm |
Nasionalisme suatu saat akan berubah menjadi “chauvinisme”. Akhirnya prediksi itu saat ini jadi kenyataan. That”s why i hate nasionalism
“Ngapain bantu negara lain, kita urus saja internal dalam negeri kita?”
Jadi ingat awal2 kemerdekaan kita dulu. Waktu Indonesia minta pengakuan secara de facto ke negara2 lain. Bayangkan kalau dulu Mesir, India atau bahkan Palestina berpikir seperti itu dan tak memberikan pengakuannya.
Jadi bukan berandai2 bila berada di posisi mereka. Tapi kita pernah ada di posisi itu. Silahkan buka lembaran sejarah
Bu Prita, semua memang harus kita bantu. Tapi, menurut saya, penduduk Gaza yg paling perlu bantuan saat ini.
Kalo anda memilih tetap membantu rakyat Indonesia dan melupakan gaza, tidak ada yg salah.
Intinya kita memang harus membantu sesama. Asal kita tak hanya melontarkan kritik dan tak berbuat apa-apa.
Perbedaan pendapat sangat dipengaruhi latar belakang. Saya yakin itu. Saya tinggal di “Kampung” bukan di komplek. Di “kampung” hubungan bertetangga sangat erat dibanding komplek. Bahkan sampai melebihi hubungan darah.
Salam hangat
Dhani Layung // Januari 4, 2009 pada 2:48 pm |
Dihikayatkan bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa yang terpilih…
Mereka dikaruniai kemampuan berpikir yang melebihi bangsa lain di muka bumi. Namun ada sekeping fakta yang tidak diangkat ke muka selama ini, dimana seiring dengan karunia tersebut mereka juga dibebani kutukan. Dikutuk menjadi bangsa yang tertindas setelah mereka mencapai puncaknya.
Bergenerasi-generasi, mereka menyangkal kutukan itu. Namun kita lihat bagaiaman sejarah bersaksi. Demi airmata dan darah bangsa Palestina yang tertumpah selama ini karena ketidakadilan, mari kita menunggu dan berharap sejarah terulang lagi..
Aryatama Nurhasyim // Januari 4, 2009 pada 2:48 pm |
Solusi bagus untuk bangsa Indonesia? Sudah banyak yang mikir dan mengusulkan, tapi mental sebelum implementasi. Bagaimana mau implementasi pembuat kebijakannya selalu “client goverment” antek-antek AS. Bagaimana bisa mendapatan pemerintah yang “sejati” jika rakyat tidak tahu siapa yang seharusnya layak memerintah. Rakyat Indonesia akan terbantu jika mau menolong diri sendiri dengan belajar memahami. Bagaimana mau belajar, jika mereka lebih memilih mengisi pikirannya dengan sampah yang nampak lebih menarik daripada hal-hal bernas yang kelihatan membosankan.
eko // Januari 4, 2009 pada 7:35 pm |
assalaamu’alaikum
kalau ada informasi pemberangkatan relawan ke palestina, tolong saya bisa dikabari
syukron
wassalaamu’alaikum