Arsip untuk kategori ‘antirokok’
Perayaan Kehidupan: Ajakan bagi Perokok
Ketika kalian kritis terhadap semua yang berbau “asing”, mengapa kalian diam melihat kapitalis—tidak peduli itu asing atau lokal—membunuh masa depan anak-anak Indonesia? Mengapa kalian begitu sibuk mengerdilkan upaya pengendalian tembakau sebagai perang rokok putih—yang kalian sebut “asing”—melawan kretek—yang kalian klaim sebagai tradisi bangsa?
Saat semangat kecintaan terhadap bangsa membawa kalian turun ke jalan memprotes aparat penegak hukum yang korup, mengapa hati kalian melunak melihat penyelenggara negara membiarkan warga mati terkapar dengan paru-paru terbakar?
Mengapa di saat bersamaan kalian bisa berpikir dengan sangat ilmiah sekaligus sangat konspiratif ketika mencurigai mafia industri farmasi-lah yang bermain karena ingin mencuri nikotin dalam tembakau dari industri rokok? Bukankah keilmiahan berpangkal pada ilmu, dan orang berilmu tak semestinya merusak jiwa-raga sendiri? Dan mengapa justru kalian memilih tutup mata-mulut-telinga ketika serangkaian fakta tunjukkan pemimpin negara berkonspirasi di bawah ketiak industri rokok?
Mengapa kalian tak lelah memfitnah perjuangan kami akan berujung pada pemiskinan petani tembakau? Bukankah justru Industri yang produknya kalian hisap kuat-kuat sudah lebih dahulu memiskinkan mereka? Ketika setiap 1 Mei kalian lantang berteriak di kuping kapitalis untuk penuhi hak-hak buruhnya, mengapa setiap 31 Mei kalian bergeming melihat petani tembakau dan buruh pabrik rokok diupah tak layak oleh majikannya?
Ketika negara-negara di dunia berlomba-lomba jadi yang terdepan dalam mengisi hak-hak warganya, mengapa pengawal Konstitusi kita justru seperti belum pernah belajar bahwa mendapatkan udara bersih dan menjaga kesehatan adalah hak-hak dasar manusia sementara merokok jelas bukan di antaranya? Dan mengapa kalian diam saja atau bahkan turut pada ketidakbijakannya?
Hari ini, kami hanya ingin ajak kalian dalam kesadaran. Kesadaran untuk merayakan kehidupan. Kehidupan yang tak mengejar kematian.
Memilih Presiden Negeri Asbak
“Kenapa Bu, kok harga rokok naik-naik terus? Setahun sampai dua kali. Kalau terus-terusan naik, keuntungan kami jadi tambah kurang.” Keluhan Karna, seorang pedagang asongan, itu ditujukan kepada Megawati Soekarnoputri, calon presiden, seperti dikutip harian Kompas edisi seminggu yang lalu.
Dalam acara deklarasi pencalonan dirinya sebagai presiden tersebut, Megawati memang tidak menjawab pertanyaan Karna. Namun, keberpihakan Megawati tergambar ketika ia menjabat sebagai presiden. Tahun 2003, ia mencabut larangan perusahaan rokok beriklan di media cetak dan elektronik. Gambaran ini sebenarnya tidak serta-merta menunjukkan wujud keberpihakan kepada Karna, si pedagang asongan, ataupun wong cilik lainnya, melainkan lebih menonjolkan keberpihakan kepada industri rokok.
Baca entri selengkapnya »
Ro-Yo-Go
Majelis Ulama Indonesia (MUI), sejak kemarin hingga besok, 24-26 Januari 2009, menggelar Sidang Ijtima di Padang Panjang, Sumatera Barat. Tiga hal menjadi pokok pembahasan utama untuk diputuskan status hukum halal-haramnya: rokok, senam yoga, dan golongan putih (golput). “Dengan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Watthoniyyah, Kita Berperan Serta Mengatasi Masalah Bangsa” menjadi tema Sidang Ijtima kali ini.
Indonesia: Surga bagi Perokok
Hingga saat ini, bahaya rokok belum menjadi isu utama di kalangan masyarakat. Bukan sepenuhnya kesalahan masyarakat karena pemerintah pun tidak menunjukkan kesungguhan dalam menangani permasalahan nan pelik ini. Bahkan, tokoh masyarakat—yang seharusnya menjadi panutan—juga masih sebatas memberikan anjuran bersifat halus untuk menghindari rokok. Tidak seperti ulama-ulama di Timur Tengah, Malaysia, maupun Brunei Darussalam yang telah sepakat untuk mengharamkan rokok, ulama di Indonesia baru “berani” mengeluarkan fatwa bahwa merokok hukumnya makruh. (Tulus Abadi: 2005).
