Arsip untuk kategori ‘nasionalisme’
Perayaan Kehidupan: Ajakan bagi Perokok
Ketika kalian kritis terhadap semua yang berbau “asing”, mengapa kalian diam melihat kapitalis—tidak peduli itu asing atau lokal—membunuh masa depan anak-anak Indonesia? Mengapa kalian begitu sibuk mengerdilkan upaya pengendalian tembakau sebagai perang rokok putih—yang kalian sebut “asing”—melawan kretek—yang kalian klaim sebagai tradisi bangsa?
Saat semangat kecintaan terhadap bangsa membawa kalian turun ke jalan memprotes aparat penegak hukum yang korup, mengapa hati kalian melunak melihat penyelenggara negara membiarkan warga mati terkapar dengan paru-paru terbakar?
Mengapa di saat bersamaan kalian bisa berpikir dengan sangat ilmiah sekaligus sangat konspiratif ketika mencurigai mafia industri farmasi-lah yang bermain karena ingin mencuri nikotin dalam tembakau dari industri rokok? Bukankah keilmiahan berpangkal pada ilmu, dan orang berilmu tak semestinya merusak jiwa-raga sendiri? Dan mengapa justru kalian memilih tutup mata-mulut-telinga ketika serangkaian fakta tunjukkan pemimpin negara berkonspirasi di bawah ketiak industri rokok?
Mengapa kalian tak lelah memfitnah perjuangan kami akan berujung pada pemiskinan petani tembakau? Bukankah justru Industri yang produknya kalian hisap kuat-kuat sudah lebih dahulu memiskinkan mereka? Ketika setiap 1 Mei kalian lantang berteriak di kuping kapitalis untuk penuhi hak-hak buruhnya, mengapa setiap 31 Mei kalian bergeming melihat petani tembakau dan buruh pabrik rokok diupah tak layak oleh majikannya?
Ketika negara-negara di dunia berlomba-lomba jadi yang terdepan dalam mengisi hak-hak warganya, mengapa pengawal Konstitusi kita justru seperti belum pernah belajar bahwa mendapatkan udara bersih dan menjaga kesehatan adalah hak-hak dasar manusia sementara merokok jelas bukan di antaranya? Dan mengapa kalian diam saja atau bahkan turut pada ketidakbijakannya?
Hari ini, kami hanya ingin ajak kalian dalam kesadaran. Kesadaran untuk merayakan kehidupan. Kehidupan yang tak mengejar kematian.
Tidak Biadabkah Bilang Israel Tidak Biadab?
Tulisan ini adalah refleksi penulis di halaman Facebook-nya. Dimuat di blawg ini karena banyaknya tanggapan menarik dari para pembaca. Semoga menambah wawasan.
Dia bilang, “Israel tidak biadab.”
Dia bilang, “Ini perang, dan wajar Israel (dan Amerika Serikat) menyerang habis-habisan.”
Saya bukan ahli sejarah, bukan pula ahli agama. Tidak banyak fakta yang bisa saya utarakan untuk mendukung argumen saya menentang pendapatnya.
Rakyat Menangkan Obama, Obama Menang?
Tidak lama lagi, dunia segera tahu, Obama atau McCain yang akan menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) periode berikutnya. Lepas dari kenyataan bahwa sesungguhnya—menurut saya—tidak akan ada dampak yang sangat bermakna bagi keseluruhan masyarakat Indonesia apabila Obama menang atau kalah, ada yang lebih menarik untuk kita ulas terkait perhelatan akbar ini.
Politisi Memilih Hakim Konstitusi: Catatan Seleksi Hakim Konstitusi oleh DPR
Artikel ini dimuat di parlemen.net tanggal 3 April 2008
Selama Februari hingga Maret 2008, topik seputar seleksi calon hakim konstitusi menjadi pusat perhatian anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang duduk di Komisi III. Dinamika politik DPR untuk memilih tiga hakim konstitusi saat itu diwarnai dengan perdebatan, diantaranya soal penundaan batas akhir pendaftaran dan mekanisme seleksi bagi calon incumbent.
Siapa Harus Membaca Teks Proklamasi?
Upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan yang diselenggarakan setiap tahun di halaman Istana Merdeka merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi kenegaraan republik ini. Upacara yang dipimpin oleh Presiden RI sebagai inspektur upacara tersebut menyesuaikan waktu mulainya dengan saat pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno, yaitu pukul 10.00 WIB.
Bahasa Indonesia Itu Memalukan
Dalam sebuah acara silaturahmi beberapa tahun yang lalu, penulis bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya berkesempatan terlibat dalam percakapan dengan Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI), Bapak Prof. Hikmahanto Juwana, S.H., LL.M., Ph.D. Beliau menceritakan pengalamannya saat menempuh kuliah magister di Jepang.
Pondasi Itu Bernama Konstitusi
Seorang rekan berkata dengan nada sedikit mengejek, “Ah, konstitusi, apaan sih?” ketika penulis sedang membaca buku Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia karangan Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H. Tentu saja penulis terkejut mendengar sebuah pernyataan seperti itu dikeluarkan oleh rekan sesama mahasiswa fakultas hukum. Perbincangan ke arah perdebatan pun akhirnya berlangsung, walaupun pada kelanjutannya, rekan tadi bersikap pasif dalam arti hanya mendengarkan tanpa mau ambil pusing atas penjelasan tentang pentingnya konstitusi yang berusaha disampaikan penulis.
